Mentari pagi di sudut timur laut Kota Tashkent mulai menampakkan kilau jingga berbalut keemasan, langit gelap perlahan kian ditinggalkan. Pancarannya semakin memperluas spektrum cahaya nan memukau setiap pandangan.
Ini adalah awal musim panas, kakiku baru saja menginjakkan jejaknya di perbatasan jalur darat dari Kyrgyzstan ke Uzbekistan melalui Tashkent. Pendar keindahan ini seolah menyambutku dalam pelukan hangat yang begitu melenakan. Sebuah awal yang tenang untuk petualangan panjang di negeri Jalur Sutra.

Rute Bus Bishkek – Tashkent (Via Kazakhstan)
Senja baru saja tenggelam di langit Kota Bishkek. Rombongan kami terbagi 2 untuk menggunakan Yandex Go yang berisi 4 orang. Tujuan berikutnya adalah terminal bus Voenno-Antonovka, ul. Frunze 136, jadwal keberangkatan tepat pukul 21.00 waktu setempat. Bus internasional dan minivan lintas negara sudah berjejer rapih, seakan bersiap menanti penumpang yang datang. Suasana menjelang malam yang dipenuhi oleh backpacker berbaur dengar warga lokal, dengan no. kursi yang telah tertera pada tiket.
Perjalanan darat dari Bishkek menuju Tashkent melintasi 3 negara: Kyrgyzstan – Kazakhstan – Uzbekistan, menjadikannya salah satu rute overland termudah di Central Asia. Bus bergerak ke luar kota Bishkek melalui jalur barat laut menuju perbatasan Kazakhstan, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 1 jam.
Border 1: Kyrgyzstan – Kazakhstan (Ak-Tilek/Chaldybar)
- Turun dari bus dan pemeriksaan barang
- Cap keluar Kyrgyzstan
- Masuk ke pos Kazakhstan
- Cap masuk Kazakhstan
Setelah lolos border, bus kembali jalan. Rute yang ditempuh adalah masuk wilayah selatan Kazakhstan, melewati kota-kota kecil menuju Shymkent (kota terbesar di jalur itu sebelum masuk Uzbekistan), dan berhenti di rest area Kazakh yang terang dan ramai. Di sini aku dan teman lainnya menyempatkan untuk menukar uang Kazakh Tenge ke USD. Dan perjalanan ini menjadi bagian terpanjang sekitar 10-14 jam, lumayan lah bisa buat tidur dan beristirahat untuk petualangan berikutnya di Uzbek.
Border 2: Kazakhstan – Uzbekistan (Zhibek Zholy/Gisht Kuprik)
- Semua penumpang turun membawa barang
- Jalan kaki sekitar 200-300 meter menuju imigrasi Uzbekistan
- Pemeriksaan barang lebih ketat
- Cap masuk Uzbekistan
Total cap paspor: 4 cap (keluar-masuk 2 negara)
Tiket Info:
Harga: 2200-3000 KGS
Pembelian: via website Tezket.kg, agen travel, atau langsung beli di terminal.
Seat: Kursi biasanya fixed
Apa saja yang harus dipersiapkan:
- Paspor + Visa (WNI bebas visa untuk KAZ, UZB)
- Air + makanan ringan
- Powerbank/charger
- Jaket tipis/wind breaker
- Cash mata uang lokal
- Aplikasi Yandex Go (Registrasi pake Sim card Luar Negeri)
Welcome in Tashkent!
Setelah lolos pemeriksaan, kami serombongan ber-delapan masih harus menunggu bus yang akan mengantarkan sampai ke tujuan akhir, yaitu terminal bus di pusat kota, yaitu Tashkent Central Bus Terminal/Yunsobod Area.
Banyak info dari traveler yang pernah melewati jalur darat Uzbek itu bakalan lama, mungkin karena antrian bus dengan pemeriksaan super ketat atau entah alasan apa sungguh kurang kami pahami. Dan benar saja, penantian panjang yang membosankan ini berlalu lebih dari satu jam. Di sela waktu menunggu, aku pun sempat mencari konter SIM Card dan menukar uang Uzbek Som secukupnya, sambil mencari sesuatu yang unik dari sini.

Border Uzbek, Gisht Kuprik yang mulai menggeliat dengan berbagai aktivitas warga lokal tampak wara-wiri seperti di pasar. Sepanjang blok jalan dipenuhi oleh pedagang obi non, yaitu roti khas Uzbek yang berbentuk pipih bundar, seukuran piring yang berkialuan kecokelatan. Selang beberapa lama, kami pun tiba di terminal dan melanjutkan perjalanan dengan taksi online menuju destinasi pertama , yaitu Khasrati Imam Mosque yang jaraknya tak terlalu jauh dari Taskent Vokzal atau Stasiun Kereta Api Pusat yang beberapa jam kemudian akan mengantarkan kami menuju Bukhara dengan sleeper train.


Sembari menanti jadwal keberangkatan ke Bukhara, kami sempatkan untuk mengisi perut di kafe terdekat. Cuaca di Tashkent saat itu begitu terik dan kering, pengalaman pertama di early summer yang super hot!

One Day Trip in Bukhara
Dari Tashkent, naik kereta cepat atau sleeper bus ke Bukhara sekitaran 6 jam. Satu room berisi 2 ranjang tingkat untuk 4 orang penumpang. Bukhara yang merupakan kota legenda Jalur Sutra dengan pesonanya yang memikat. Banyak destinasi wisata di sini yang bisa masuk bucket list untuk dikunjungi.
Chor Minor
Salah satu ikon paling unik di Bukhara! Bangunan dengan empat menara berkubah biru yang dulunya bagian dari kompleks madrasah, tapi sekarang berdiri sendiri dan sering disebut “Masjid kecil empat menara”. Di sekitar area Chor Minor ini, banyak ditemukan toko-toko antik atau “Museum tanpa label”, letaknya agak tersembunyi dari jalan utama, masuk gang-gang kecil yang menjadikan daya tarik tersendiri bagi turis yang datang.

Becak Golf/Golf Charts sebagai taksi lokal di area bebas mobil yang membawa kami menuju tempat-tempat ikonik di Bukhara menjadi pengalaman unik dan epic. Biayanya relatif lebih murah dibanding Yandex, dan terlebih kendaraan imut ini bisa bermanuver di gang sempit dan menarik untuk dinikmati. Teriknya musim panas Asia Tengah terasa kian menyengat, dan kota ini seperti mengalir dalam tempo yang lambat.

Tak jauh dari sini, sopir becak golf plus pemandu yang merupakan anak muda lokal ini mengajak kami mengunjungi museum seperti toko tua yang isinya benda-benda antik bernilai sejarahnya yang mewah. Karpet tua bergambar Vladimir Lenin yang menjadi simbol kuat di masa Soviet, piring warna-warni, kendi kuningan, keramik dan logam ukir yang mempresentasikan warisan lokal Uzbek yang lebih tua dan berakar pada budaya Jalur Sutra.
Kalyan Minaret
Menara Kalyan sebagai ikon utama Kota Bukhara, biasa disebut Great Minaret of the Kalon atau Minorai Kalon. Dibangun tahun 1127 oleh penguasa Karakhanid, Arslan Khan sebagai menara azan. Memiliki tinggi 45,6 meter dilengkapi ornamen bata geometrisnya masih asli sejak abad ke-12.



Buat turis yang ingin masuk ke area dalam menara dikenakan tarif sekitar 35 ribu rupiah/orang. Di sekitaran Kalyan Minaret juga bisa ditemui deretan toko oleh-oleh khas Bukhara, seperti karpet, pakaian, dan aksesoris hand made khas Uzbekistan yang sayang untuk dilewatkan. Suhu yang semakin panas membuat kami sedikit lemas, minuman kemasan dingin menjadi pilihan untuk melepas dahaga dan kembali melanjutkan petualangan berikutnya.
Mir-i-Arab Madrasa (Miri Arab Madrasah)
Bangunan ini menjadi salah satu landmark Bukhara selain Kalyan Minaret & Kalyan Mosque, berada tepat di seberang Menara Kalyan, masih dalam kompleks Poi Kalon. Dibangun pada abad ke-16 saat era Dinasti Sheybanid = Sheikh Abdullah Yemeni (disebut Mir-i-Arab), berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam dan Tasawuf, dan masih aktif sampai sekarang.


Pola mozaik geometris & kufic khas Sheybanid, permukaan dinding yang sangat kaya dengan detail faience tiles. Di tengahnya ada lapangan luas dengan dua lantai dihiasi jendela berlengkung simetris yang semakin menambah pesona kemegahan bangunan khas Bukhara.
Ismail Samani Mausoleum (Maqbara Samanid)
Kami juga diajak melintasi Maqbara Samanid, yaitu makam Ismail Samani dari Dinasti Samanid (masa keemasan Persia di Asia tengah). Dibangun pada akhir abad ke-9 hngga awal abad ke-10, berlokasi di Manid Park. Bangunan ini sangat monumental, terkenal karena:

- Memiliki teknik bata yang rumit, pola geometris menggunakan bata bakar yang disusun seperti anyaman dan membuat efek cahaya bayangan yang sangat cantik. Semuanya murni bata, simbol kehalusan arsitektur pra-Timurids.
- Salah satu bangunan Islam tertua yang masih utuh.
- Perpaduan arsitektur Persia pra-Islam dan Islam awal.
Wisata tanpa kuliner itu kurang lengkap rasanya, ya! Jadi, setelah mengelilingi beberapa destinasi ikonik, kami meminta rekomendasi tempat makan khas di sini. Si akang pemandu yang mirip Zein Malik lokal ini mengantarkan kami ke restoran plov yang katanya legendaris, sekaligus mengakhiri petualangan kami di Kota Bukhara.

Nasi plov ini ada 2 menu andalannya, yaitu Plov Bukhara & Plov Samarqand. Dimasak dalam kuali super jumbo seukuran bentuk kubah, sampai orang yang masaknya harus naik ke bangku, hihi. Harga di sini relatif terjangkau, dan rasa plov menurutku cocok di lidah dan sangat direkomendasikan kalo kalian datang ke Bukhara nanti, ya! Jangan lupa bawa bon cabe dari Indo, biar rasanya makin meriah dan pedes!
Samarkand Highlights (2 Days)
Kota Samarkand menjadi tempat akhir dari adventure trip kami, dengan total 14 hari di 4 negara STAN. Perjalanan dari Bukhara menuju Samarkand menggunakan kereta cepat bernama Afrosiyab, yang menempuh waktu sekitar 2 jam. Setibanya di kota yang paling mudah dijelajahi dengan ritme santai ini, aku seringkali dibuat takjub akan kemegahan bangunan ikonik dan jalanan nan sunyi. Ya, meski suhu panas >40 •C kian menyengat di setiap langkah.
Banyak situs utamanya berada di satu koridor, sehingga bisa dilakukan dengan jalan kaki atau taksi singkat. Oiya, tarif taksi online (Yandex Go) di sini tuh relatif murah banget, apalagi kami sharing cost ber-empat, jadinya jauh lebih hemat kan!
Gaya masyarakat urban Samarkand yang begitu modern bisa dilihat dari tampilan orang yang lalu lalang di kafe, stasiun kereta cepat sampai bandara. Dan tentunya, di sini tuh kayak gudanganya mahluk Tuhan paling cantik dan tampan gitu, deh hehe. Sayangnya, kami nggak sempat mampir di mal karena lebih prioritaskan mengunjungi destinasi ikonik bersejarah Islam yang spektakuler.
Hari 1 – Pusat Kota & Jejak Dinasti Timurid
Registan Square
Ikon utama Samarkand dan titik awal terbaik untuk memahami kota ini. Disarankan untuk jalan sepagi mungkin ya, biar nggak terlalu panas!

Kompleks ini terdiri dari:
- Ulugh Beg Madrasa
- Madrasah-madrasah besar dengan fasad mozaik biru khas Timurid
Bibi Khanum Mosque
Masjid raksasa peninggalan Amir Timu yang pernah menjadi salah satu bangunan terbesar di dunia Islam. Memilik daya tarik utama: Skala bangunan yang masif dan detail arsitektur yang kontras antara kemegahan dan kerusakan.
Untuk mencapai lokasi masjid hanya ditempuh dengan jalan kaki dari Registan, sekitar 10 menitan saja.

Gur-e-Amir Mausoleum
Makam Amir Timur dan keluarganya. Tempat ini raltif tenang dan cocok dikunjungi sore hari. Interiornya kaya akan ornamen emas dan kaligrafi yang memukau.
Hari 2 – Ruang Spiritual & Kota Tua
Shah-i-Zinda/Zinda Memorial Compleks
Kompleks makam suci yang menjadi salah satu situs paling penting di Asia Tengah. Sebagai highlight visual utama dengan karakteristik kubah biru bertuliskan kaligrafi, menara kecil bermotif mozaik, tangga, pagar ukir dan detail ubik khas Timurid beratapkan langit cerah nan megah.


Dibangun bertahap pada abad ke-11 hingga ke-15 yang di dalamnya terdapat deretan mausoleum, madrasah kecil dan lorong-lorong berubin biru yang terkesan dingin, namun bisa membuat decak kagum siapapun yang menikmati keindahannya.
Hazrat Khizr Mosque (Viewpoint)
Masjid dengan detail tiang kayu dan arsitektur memukau ini terletak di dataran lebih tinggi, tak jauh dari Shah-i-Zinda. Dari teras masjid ini pengunjung bisa melihat panorama kota tua Samarkand, sekaligus menikmati suasana tenagn setelah kunjungan ke situs makam. Banyak spot foto yang Instagramable dari tiap sudutnya, nggak heran kalo di sini tuh selalu rame pengunjung berfoto.

Area Kota Modern (Bazmohi/Wedding Palace)
Bangunan modern yang sering dilewati dalam rute kota. Bukan situs bersejarah, tetapi memberi konteks kontras antara Samarkand hari ini dan Samarkand masa lalu. Dari jalur inilah, kami berjalan menikmati kota yang tenang dan lengang. Di sepanjang jalan bisa ditemui toko dan coffee shop juga, untuk setiap pembayaran aku selalu menggunakan kartu Jenius yang bisa satset dan mudah diterima.

Samarkand tidak memintaku untuk kagum berlebihan, ia hanya mengajrkan satu hal sederhana, bahwa sejarah, iman dan waktu akan selalu menemukan caranya sendiri untuk tinggal di hati yang mau diam sejenak. bagiku, Uzbekistan sangat layak untuk dikunjungi! Rasanya ingin sekali balik lagi di musim dingin , suatu saat nanti.
Dan ya, perjalanan kami yang penuh cerita bermakna ini harus berakhir di sini. Bersiap kembali ke Tashkent dengan kereta cepat Temir Yol Express dengan fasilitas kerennya, walaupun jadwal keberangkatan sempat tertunda 1,5 jam karena cuaca ekstrim yang super hot ini!

Dari bandara Taskent kami berpisah. Winda dan Ranum kembali ke Turkiye, mererka harus melanjutkan studynya di sana. Dheya balik dulu ke Banjarmasin via China sendirian. Sementara Nily, Ika, Fadilah, Stefhany dan aku harus balik ke KL. Sedih rasanya, setelah 14 hari bersama dalam suka dan duka. Bersyukur bisa menikmati perjalanan panjang ini bersama kalian, girls! Semoga nanti kita bisa bertualang lagi ya. See you!

