One Day Trip ke Seven Lakes Tajikistan dari Samarkand

Satu hari di Tajikistan terasa seperti potongan waktu yang panjang dan tenang.

Perjalanan ini dimulai dari Samarkand, menelusuri border road menuju Seven Lakes, lembah biru yang tersembunyi di antara pegunungan Fann.

Meski disebut one day trip, setiap kilometer yang dilewati seolah membawa cerita sendiri, tentang batas negara, budaya warga lokal, warna air yang berubah, dan hati yang perlahan belajar tenang.

Pagi itu, langit Samarkand masih diselimuti embun tipis ketika kami berangkat.

Mobil melaju perlahan meninggalkan kota, membawa rasa penasaran menuju arah perbatasan.

Dari sini, kisah hari itu pun dimulai. Sebuah perjalanan singkat yang ternyata menyisakan kenangan tak terlupakan, dan layak untuk dikenang.
Dengan menumpangi taksi online dari hotel, kami tiba di terminal Samarkand.

Setelah mencoba bernegosiasi dengan salah seorang sopir angkutan umum yang akan membawa kami ke perbatasan Tajikistan, tak disangka keberadaan kami berdelapan menjadi pemicu keributan di antara sopir yang berburu penumpang.

Mereka bergerombol saling menawarkan diri, sampai terjadilah keributan dan baku hantam.
Ngeri sih, dan kami memilih kabur ke luar dari area terminal. Beruntung, pak sopir yang awal nego bisa gercep ngarahin kami untuk masuk ke dalam angkotnya dan langsung tancap gas.

Ada kalimat yang terlintas di kepalaku saat mobil melaju di jalan menuju perbatasan:

“Kadang, perjalanan paling berharga bukan yang jauh, tapi yang paling dalam.”

Itulah yang kurasakan dalam perjalanan satu hari dari Samarkand, Uzbekistan, menuju Haft Kul, atau Seven Lakes di Tajikistan Barat.

Bukan sekadar lintas batas, tapi seolah menyeberangi ruang waktu, dari kota bersejarah menuju lembah tenang yang menjadi destinasi menakjubkan.

Dari Samarkand Menuju Perbatasan

Mobil angkot ini membawa kami keluar kota, melewati ladang luas dan desa-desa sunyi.
Sekitar dua jam kemudian, kami sampai di perbatasan Jartepa, gerbang kecil yang menghubungkan Uzbekistan dan Tajikistan.

Proses imigrasi berjalan cepat, hanya beberapa lembar paspor dicek tanpa senyum ramah dari petugas yang tampak sudah terbiasa melihat para pelintas antar negara seliweran.

Begitu keluar dari pos, udara terasa berbeda. Lebih kering, lebih hangat, dan entah mengapa lebih sunyi.

Negara kecil di Asia Tengah yang tak banyak orang tahu, dan merupakan negara termiskin di kawasan ini.
Saat kami datang melalui border road Samarkand-Tajikistan, sangat terasa perbedaannya.
Realitas hidup di sini sangat jauh dari gemerlap. Rasanya seperti mundur beberapa tahun ke belakang, seolah tak tersentuh modernisasi.

Pagi itu, kami berdelapan tiba di perbatasan Tajik dan sudah dijemput oleh guide yang akan mengantarkan ke destinasi Seven Lakes.
Paket one day trip untuk menyaksikan keajaiban alam tersembunyi di bagian Khudzhand ini, wajib dimasukkan ke dalam bucketlist 4 STAN.

Sepanjang Border Road

Jalan menuju Haft Kul dari perbatasan Shing tidak selalu mulus. Beberapa saat kemudian, kami memasuki kota Panjakent dan mampir sejenak untuk mencari sarapan. Suasana di kota provinsi Sughd ini lumayan ramai, kami berjalan menyusuri toko-toko yang dipadati orang berbelanja.

Budaya masyarakat di sini yang cukup unik, penampilan wanita dengan berpakaian gaun dan jubah berwarna cerah dilengkapi aksesoris yang sangat mencolok.
Konon katanya, semakin meriah aksesoris di kepala dan pakaian itu menunjukkan level sosialnya.

Lalu, kami pun melanjutkan lagi perjalanan. Melewati desa kecil, anak-anak melambai dengan senyum malu. Sementara perempuan tua duduk di depan rumah batu, menatap kami dengan mata penuh cerita.
Sesekali debu beterbangan, bebatuan berguling kecil di tepi tebing. Namun pemandangan di sepanjang jalan ini menebus semuanya, lembah yang menjulur panjang, sungai kecil berkelok, dan gunung-gunung yang berdiri gagah tanpa kata.

Haft Kul — Tujuh Danau, Tujuh Warna

Menempuh jarak waktu 2 jam. Menyusuri pegunungan dan tebing yang menjulang tinggi dengan angkuhnya, mata dimanjakan oleh aliran sungai berarus deras dengan warna toska begitu memikat.

Di antara kerasnya medan dan sunyinya lembah. Aku belajar satu hal, kemiskinan tak selalu menghapus keindahan.
Selalu ada hal besar di balik kekurangan. Begitupun dengan Tajikistan.
Seven Lakes di Tajikistan menawarkan pemandangan dramatis dari alam yang spektakuler.

Setiap sudut alamnya adalah simbol keteguhan masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan tantangan geografis dan ekonomi, sekaligus membawa potensi besar bagi pariwisata yang berkualitas dan inklusif.

Tak lama kemudian, air biru pertama menyambut dari kejauhan. Itulah Nezhigon Lake, danau pertama dari tujuh bersaudara. Warna airnya begitu jernih, nyaris tak percaya kalau itu nyata.

Dari situ, kami terus naik. Setiap danau punya karakternya sendiri. Ada yang hijau toska, ada yang biru gelap hampir ungu, ada pula yang dikelilingi pepohonan rindang seolah menyembunyikan rahasianya sendiri.

Penduduk lokal menyebutnya “Haft Kul” atau Tujuh Danau. Dan percaya bahwa setiap warna air mencerminkan hati manusia. Airnya sama, tapi kedalamannya berbeda. Di setiap danau yang dilalui, guide memberikan waktu untuk turun dan menikmati suasana yang lumayan terik, tapi masih bisa dinikmati keindahan alamnya.

Berhenti di Danau Keenam

Menjelang siang, kami tiba di danau keenam.
Sementara yang ketujuh masih jauh di balik gunung, dan waktu tak lagi cukup. Kami memutuskan berhenti di sini. Namun entah kenapa, tak ada rasa kecewa.
Angin lembut, air yang berkilau, dan langit biru yang seolah memeluk seluruh lembah. Semuanya terasa seperti akhir yang sempurna.

Mungkin, memang tidak semua perjalanan harus diselesaikan. Kadang, berhenti di tengah pun sudah cukup.
Dan paket trip ini sudah termasuk mengunjungi kediaman bapak guide, sekalian makan siang yang telah dipersiapkan.

Setibanya di tujuan, seluruh keluarganya menyambut kami dengan hangat dan gembira, mengundang dengan teh dan cerita sederhana. Meski komunikasi terbatas, tapi keramahan mereka mampu memberikan kesan untuk kami yang datang. Kayak pulang kampung beneran ini mah!
Fasilitas yang disediakan seperti penginapan ada di sini. Suasana desa di atas ketinggian yang berlatarkan gunung dan dialiri sungai berarus deras bisa menambah romantis dan bikin betah!

Kembali Melalui Lembah

Sore hari, kami menuruni jalan yang sama.
Sinar matahari mulai miring, membuat air danau tampak keperakan. Dari kejauhan, anak-anak kembali melambai, seolah mengucapkan selamat jalan pada para pengelana yang akan segera hilang di tikungan debu.

Di perjalanan pulang, aku diam cukup lama. Menatap pegunungan yang perlahan menjauh, dan menyadari bahwa hari itu telah memberi lebih dari sekadar pemandangan indah. Ia memberi tenang, dalam bentuk yang paling sederhana.

📍 Rute: Samarkand (Uzbekistan) – Jartepa Border – Shing Valley – Haft Kul (Seven Lakes), Tajikistan

🕘 Durasi: Sekitar jam 08.00 – 17.00

🚗 Transportasi: Sewa mobil lokal/angkot sampai perbatasan.

💰 Biaya estimasi: USD 80–100 per orang

🧭 Tips:

  • Wajib bawa paspor dan bebas visa/izin lintas perbatasan
  • Gunakan sepatu nyaman, jalan menuju danau berbatu
  • Siapkan bekal camilan & air minum
  • Jangan buru-buru, nikmati setiap perubahan warna air. Siapkan gear pemotretan.

Hari itu, aku tak sampai di danau terakhir. Tapi setiap langkah, setiap warna air, setiap embusan angin terasa cukup untuk menenangkan hati yang lelah berlari.
Karena mungkin, ketenangan memang tidak selalu ada di ujung perjalanan, tapi di titik di mana kita berhenti dan berkata: “Sudah cukup.”

Saat mobil kembali menyusuri lembah dan debu sore mulai naik perlahan, aku tahu perjalanan ini tak lagi tentang tujuh danau.
Ia tentang rasa cukup yang tumbuh diam-diam — di antara air yang memantulkan langit, dan waktu yang berjalan lebih lambat dari biasanya.
Mungkin, memang tidak semua perjalanan harus sampai di akhir. Kadang, berhenti di tengah pun sudah cukup. Selama hati tahu ia telah menemukan tenang.

Tajikistan. Sangat layak untuk dikunjungi!
Dan kami kembali melintasi perbatasan untuk melanjutkan lagi trip berikutnya di Samarkand.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top